Wisata Solo

Kota Solo merupakan salah satu kota di jawa Tengah yang menjadi barometer dalam banyak hal seperti pendidikan, budaya, ekonomi, wisata, dan banyak hal lain. Solo merupakan satu dari enam karesidenan yang ada di Jawa Tengah selain Semarang, Banyumas, Kedu, Pekalongan, dan Jepara –Rembang. Solo sendiri tidaklah terlalu luas dibanding dengan wilayah-wilayah di bawahnya seperti Karanganyar, Sragen, Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo.

Nama Solo memiliki sejarah panjang. Dulunya menjadi satu dengan Yogyakarta. Oleh penjajah Belanda, melalui perjanjian Giyanti lantas dipecah dua menjadi Solo dan Yogyakarta. Berikutnya, Solo juga dipecah dua lagi sehingga memiliki dua kerajaan yaitu yang berpusat di Keraton Kasultanan Hadiningrat dan keraton Mangkunegaran.

Solo memiliki sebutan lain Sala atau Surakarta. Menurut dialek setempat, penulisan yang benar adalah Sala dengan huruf “a” dibaca “o” seperti pada “Dono”. Dalam khazanah aksara jawa, pelafalan seperti ini dinamakan a miring. Sedang penggunaannya, dalam bidang akademik dan administrasi pemerintah, nama Surakarta lebih populer. Sedang dalam bahasa prokem harian seperti angkutan umum (bis/kereta/pesawat), bisnis, wisata, dan berita, nama Solo lebih familiar didengar.

Dengan lokasinya yang sudah menjadi pusat aktivitas sejak jaman kerajaan Mataram Islam, tidak banyak obyek wisata alam bisa ditemui di kota Solo. Obyek wisata di Solo mayoritas merupakan bangunan peninggalan kerajaan Kasunanan, bangunan pemerintah Belanda, atau pusat bisnis.

Bangunan bersejarah peninggalan kerajaan berupa keraton Kasunanan Surakarta (dikenal dengan Keraton Solo), keraton Mangkunegaran, dan situs keraton Kartasura sebelum pindah ke Surakarta. Di keraton Solo bisa ditemui kereta kencana, senjata (keris, tombak, panah dll), gamelan, lukisan bersejarah dan masih banyak lagi. Benda-benda bersejarah tersebut dibuka untuk umum dari jam 9-14 setiap hari. Harga tiket masuk masih tergolong murah, dibawah RP 10.000,-.

Selain di keraton, benda bersejarah bisa dilihat di Museum Radyapustaka yang berlokasi di jalan Slamet Riyadi, tepat bersebelahan dengan THR Sriwedari. Di museum ini, bisa ditemui perabot kerajaan tempo dulu, serbet, berbagai macam wayang, buritan kapal berbentuk kepala  buta (raksasa), miniatur masjid Demak,  dan ada sebuah kamar yang konon kabarnya milik Nyai Roro Kidul. Di depan ruangan tersebut dipajang lukisan yang diyakini sebagai tokoh tersebut.

Di wilayah sekitar keraton Solo, bisa ditemui pasar Klewer (miniatur pasar Tanah Abang), masjid Agung Solo, dan benteng belanda. Dengan berkembangnya jaman, kini banyak bermunculan pusat bisnis untuk memanjakan wisatawan domestik maupun mancanegara. wisata belanja bisa menuju Pusat Grosir Solo (PGS) di Gladag, Solo Square, Solo Grand Mall (SGM), Gramedia,  dan masih banyak lagi  di sisi jalan Slamet Riyadi.

Untuk menjelajahi seluruh isi Solo Raya, bisa menginap banyak hotel pilihan sesuai selera. Untuk kelas atas tersedia hotel Sahid Raya di jl. Gajah Mada, hotel Sahid Kusuma, hotel Novotel di jl. Slamet Riyadi, hotel Sunan di jl.Adi Sucipto, hotel Lor Inn di jl. Adi Sucipto.

Hingga kini, Solo masih menjadi barometer dan trendsetter di Jawa Tengah. Tak heran jika ada yang membuat slogan Solo-The Spirit of java.

Pencarian Favorit:

  • obyek wisata solo
  • wisata solo