MONJALI Monumen Jogja Kembali – Wisata Populer Yogyakarta

Monjali atau Monumen Jogja Kembali merupakan ikon tempat wisata di Yogyakarta selain Keraton Yogyakarta. Monjali mulai dibangun pada 29 Juni 1985.

Mengunjungi Monumen Jogja Kembali seperti kita sednag mengulang kembali pelajasarn sejarah di bangku SD, SMP, hingga SMA.

Wajib Baca: Pantai Siung Yogyakarta Surganya Atlet Panjat Tebing 2022

Wisata Sejarah dan Edukasi di MONJALI

Monjali merupakan monumen yang sengaja dibangun untuk memperingati perebutan kembali Kota Yogyakarta setelah Belanda kembali menjajah Indonesia pasca 1945.

Perebutan kembali Yogyakarta ke pangkuan ibu pertiwi ini menunjukkan bahwa Indonesia benar-benar berdaulat dan tidak mau dijajah.

Praktis, penjajah Belanda kalah sebagai pecundang dan Yogya kembali ke Indonesia. Oleh karenanya dinamakan Monumen Jogja Kembali.

Melihat sisi historinya, monjali memiliki kemiripan dengan Museum Gedung Juang 45 di Jakarta.

Gedung Juang 45 menceritakan perjuangan Indonesia untuk membuktikan eksistensi di mata dunia antara tahun 1945-1950.

Tak kurang dari 1000 koleksi diorama yang mengisahkan Serangan Umum 1 Maret 1949. Bangunan Monjali tampak unik.

Saat menyusuri Ring Road Utara, dari kejauhan sudah tampak bangunan berbentuk tumpeng berwarna putih dengan tinggi sekitar 32 meter. Itulah Monumen Jogja Kembali.

Di bagian luar monumen sebelum pintu masuk, terdapat dua buah pesawat yang digunakan dalam pembebasan Yogyakarta, pesawat Curen.

Ada juga meriam bergerak dipajang disana.

Monjali dibangun diatas lahan seluas 5,6 hektar. Sebagaimana filosofi jawa kuno, Monjali didesain dengan empat pintu masuk sesuai arah mata angin.

Pintu barat dan timur menuju museum di lantai satu. Pintu utara dan selatan menuju musuem di lantai dua. Museum di lantai dua berisi relief dan diorama.

Monumen Jogja Kembali berlantai tiga. Satu lantai teratas adalah ruang hening yang hanya berisi Bendera Merah Putih perlambang Indonesia dan sekaligus menghayati perjuangan yang tergambar di lantai satu dan dua.

Dan jika ditarik garis lurus dari udara, Monnjali berada pada garis lurus antara lokasi Keraton Yogyakarta, Tugu Yogyakarta,dan Gunung Merapi.

Monumen Jogja kembali merupakan tempat wisata dengan nuansa edukasi dan heroik. Heroik karena di sana bisa ditemukan benda bersejarah seperti dokar dan tandu Jendral Soedirman, jas Sultan Hamengku Buwono IX, hingga diorama dapur umum para pejuang.

Sisi edukasinya sangat cocok untuk mengenalkan langsung para pelajar dalam mengenang jasa dan pengorbanan pahlawan terdahulu.

Dengan ini, mereka akan merasa malu jika kelak menjadi koruptor, pengemplang pajak, tidak taat beribadah, dan berbagai perilaku merusak negara lainnya.

Wajib Baca: Sejarah dan Arsitektur Peradaban Kota Lama Semarang

Tentang taat beribadah, banyak pahlawan pejuang kemerdekaan yang merupakan santri dan ulama. Mereka tidak akan takut mati jika landasanbrperang bukan karena Jihad Fii Sabilillah.

Jendral Soedirman adalah seorang ulama kharismatik dan masih mengalir darah Muhammadiyah pada diri beliau.

Monumen Jogja Kembali terletak di Jalan Lingkar Utara (RIng Road Utara), di Kelurahan Jongkang, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.

Dengan posisi yang strategis ini, Monjali bisa diakses dari manapun baik dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi.

Ada petikan kalimat Jendral Soedirman yang menggetarkan jiwa dan dipajang dalam sebuah figura sederhana di Monjali.

Jendral Soedirman berpesan, “Dalam menghadapi keadaan apapun, jangan lengah sebab kelengahan menimbulkan kelemahan dan kelemahan menimbulkan kekalahan sedang kekalahan menimbulkan penderitaan”.

Baca Juga: The Great Wall of Koto Gadang –Surganya Petualang dan Pecinta Alam

Leave a Comment